[ O n e i ]

memandang melihat memperhatikan

Air Sehat dari HALOPURE Teko Ajaib

Posted by Onei Hercuantoro pada April 4, 2012

Bagaimana HaloPure® Bekerja

Kartrid HaloPure mengandung teknologi baru kontak biosida (biocide-contact) di mana atom halogen terikat ke polistiren berbentuk manik-manik. Mikroba hidup yang berbahaya saat melewati kartrid HaIoPure akan bertabrakan dengan dinding padat terbrominasi dan dibunuh dalam hitungan detik. Halogen-halogen dalam HaloPure BR akan terus melanjutkan proses membunuh di dalam di dalam sistem sehingga air dimurnikan dan didesinfeksi dalam hitungan detik.

HaIoPure BR terbukti, dapat diandalkan dan efektif dan telah diuji terhadap berbagai organisme. Semua produk HaloPure memenuhi panduan standar Organisasi Kesehatan Dunia untuk kesehatan dan disinfeksi, dan teknologi kontak-biosida HaIoPure BR terdaftar di Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat (EPA).

HaloPure® memastikan bahwa:

  • Teknologinya efektif melawan virus dan bakteri
  • Kinerja yang tinggi dalam kondisi yang berubah maupun kondisi air yang menantang
  • Kegunaan dan perangkat yang digunakan sangat fleksibel dan unik
  • Produk HaloPure® telah terbukti baik secara klinis maupun di pasar dunia
  • Produk Halopure® adalah produk yang tahan lama meskipun digunakan terus menerus
  • Air yang dihasilkan memiliki rasa yang baik

 

Cara Kerja Teko HaloPure®

  1. Air diisikan ke penampung bagian atas
  2. Media prefilter di dalam bagian atas kartrid mengurangi organisme untuk rasa yang lebih baik menghilangkan bau
  3. Bakteri dan virus dibasmi pada bagian bawah kartrid dengan HaloPure® BR
  4. Untuk mencegah mikro organisme tumbuh lagi, air yang telah dibersihkan disimpan ke dalam penyimpan di bagian bawah yang memiliki pendeteksi non-rasa dan residu halogen dengan level rendah.

 

Dibandingkan haloge lain, bromin lebih efisien dan cepat dalam proses biosida dengan rasa yang lebih baik. Bromin bahkan mampu bekerja di berbagai suhu sehingga jika dimasukkan ke dalam lemari pendingin proses membunuh kuman tetap bekerja.

 

Keadaan air tanah yang banyak tercemar seperti sekarang ini, sulit bagi kita untuk menjamin kebersihan dan keamanan air yang kita konsumsi. Hal ini dikarenakan air tanah telah terkontaminasi oleh rembesan septik tank, maupun air permukaan buangan limbah industri dan rumah tangga (Satmoko, 2005). Akibatnya, kita mulai beralih ke air kemasan ataupun air minum depot isi ulang, yang sebenarnya juga memiliki risiko yang sama karena kita tidak mengetahui proses pengolahannya. Kita akan merasa lebih aman dan percaya jika air yang kita minum dapat kita amati langsung cara pengolahannya sehingga dibutuhkan alat pengolahan air skala rumah tangga yang dapat dipakai secara mudah dan efektif dalam menghilangkan berbagai macam kontaminasi.

Halo Pure “Disinfecting Water Pitcher” merupakan solusi yang dapat mengatasi kekhawatiran Anda dalam memilih air minum yang aman. Wadah air berukuran teko ini memiliki catridge yang dapat menyaring air sehingga air yang dihasilkan dapat langsung diminum walaupun air berasal dari keran. Catridge penyaring ini berkemampuan menyaring hingga 375 liter air. Di dalam catridge ini berisi lapisan filter/ penyaring yang mampu membunuh 99,9 % bakteri dan virus di dalam air yang dapat menyebabkan typhoid/ tipes, kolera, diare, dan disentri.

Berdasarkan pemeriksaan laboratorium tentang perbandingan analisis air antara filtrasi pada Depot Air Minum Isi Ulang (DAMIU) dengan Halo Pure, ditemukan fakta bahwa seluruh sampel air hasil penyaringan oleh Halo Pure bebas dari bakteri pathogen. Hal ini dibuktikan dari tidak ditemukannya koloni bakteri pada media pembiakan, seperti yang ditunjukkan oleh gambar di bawah ini:

Sedangkan untuk hasil penyaringan filtrasi DAMIU, ditemukan banyak koloni bakteri yang hidup pada media seperti yang ditunjukkan pada gambar di bawah ini:

Berdasarkan hasil di atas, membuktikan bahwa Halo Pure efektif dalam membunuh bakteri pathogen yang dapat menyebabkan gangguan kesehatan dibanding penyaringan pada DAMIU. Jadi, Anda tidak perlu lagi khawatir dengan keamanan dan kebersihan air yang Anda dan keluarga minum dengan menggunakan Halo Pure “Disinfecting Water Pitcher”.

 


 

 

Sumber: http://www.haloqua.com

Posted in Energi | Leave a Comment »

detikcom : Ingatkan Polisi yang SMS-an Saat Bermotor, Mahasiswa Yogya Malah Dipukuli

Posted by Onei Hercuantoro pada Agustus 25, 2010

title : Ingatkan Polisi yang SMS-an Saat Bermotor, Mahasiswa Yogya Malah Dipukuli
summary : Sungguh sial nasib Mashono Rio Kertonegoro. Maksud hati ingin mengingatkan seorang polisi yang sedang ber-SMS ria saat mengendarai motor, mahasiswa UAD itu malah dipukuli hingga babak belur. Rio harus menginap di rumah sakit empat hari. (read more)

Posted in Uncategorized | Leave a Comment »

Di menara jamsostek

Posted by Onei Hercuantoro pada Juli 9, 2009

01072009(003)

Posted in Energi | Leave a Comment »

Teknologi plasma ubah sampah menjadi listrik dengan lebih efisien dan ramah lingkungan

Posted by Onei Hercuantoro pada Desember 17, 2008

Sampah memang terbukti bisa diubah menjadi sumber energi. Baik itu sebagai biomassa ataupun dengan teknologi landfield powerplant yang menggunakan sampah sebagai bahan bakar untuk memanaskan air dan menggerakan turbin. 

Jika menggunakan biomassa, maka efisiensi juga masih rendah, karena energi yang dihasilkan tidak sebanding dengan energi yang dibutuhkan. Teknologi landfield powerplant atau pembangkit listrik berbahan bakar sampah, dianggap lebih efisien, karena semua sampah yang ada digunakan sebagai bahan bakar dan energi yang dihasilkannya juga lebih besar. Hanya saja timbul pertanyaan, bagaimanakah asap dan polusi yang dihasilkan dari pembakaran tersebut? 

Teknologi yang kini dianggap lebih efisien adalah dengan menggunakan gasifikasi plasma. Meski teknologi tersebut telah ditemukan lebih dari 40 tahun yang lalu oleh NASA, lembaga antariksa Amerika Serikat, untuk mengatur suhu dalam pesawat ruang angkasa, tetapi aplikasi untuk pembangkit listrik berbahan bakar sampah masih belum banyak di dunia, hanya beberapa negara yang menggunakannya yaitu Jepang dan Amerika Serikat. 

Geoplasma, salah satu perusahaan yang mengembangkan teknologi tersebut, berhasil membuat busur api yang jauh lebih efisien untuk menghancurkan sampah dengan gas super panas atau dikenal juga dengan plasma yang dihasilkannya. 

Pembangkit listrik yang akan dibangun di Florida akan membakar sampah sebanyak 1.500 ton perhari dan menghasilkan listrik sebesar 60 MW yang sebagian kecilnya digunakan untuk keperluan pembangkit listrik tersebut, setidaknya cukup untuk melistrik rumah sebanyak 50.000. 

Gasifikasi plasma bekerja dengan menggunakan busur api listrik untuk memanaskan gas menjadi plasma. Suhu tinggi yang sudah tercipta akan memanaskan sampah menjadi syngas, yang telah bersih dari partikel-partikel. Berikutnya syngas tersebut digunakan untuk memutar turbin guna menghasilkan listrik. 

Jika sampah dimasukkan ke dalam ruang pembakaran dan menerima pemanasan hingga suhu 5.537 derajat Celcius, sampah-sampah organik, cairan, dan kertas akan berubah menjadi gas panas bertekanan. 
Uap, sebagai produk sampingannya bisa digunakan kembali untuk menghasilkan listrik. 

Sementara sampah non-organik seperti logam dan lainnya, akan mencair dan terkumpul di bagian dasar ruang pembakaran tersebut dan bisa digunakan kembali untuk industri logam atau campuran aspal. 

Keramahan terhadap lingkungannya? Ternyata emisi yang dihasilkan dengan teknologi plasma juga jauh lebih rendah jika menggunakan incinerator terstandar dan juga mengurangi jumlah methane yang dilepaskan ke udara. 

Sumber : http://www.energiportal.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&cid=40&artid=906

Posted in Energi | Dengan kaitkata: , , , | 3 Comments »

Pompa Air Tanpa Bahan Bakar & Motor Listrik

Posted by Onei Hercuantoro pada Desember 3, 2008

Made In Tambakboyo

HydramKebanyakan masyarakat Dukuh Karanganyar  yang merupakan wilayah Desa Tambakboyo dan berbatasan dengan Desa Bawen adalah Petani dimana pengairan adalah hal yang penting untuk sawah yang diambilkan dari beberapa mata air dan sungai yang ada. Namun saat kemarau tiba hanya terdapat 2 mata air yang dapat dimanfaatkan oleh warga yaitu dari Kali Jengking dan dari mata air Sumber, sehingga ketika kemarau tiba 2 sumber ini merupakan tempat antrian warga untuk mendapatkan air bersih. Sejak dua tahun yang lalu, masyarakat membentuk sebuah kelompok untuk berusaha mencari jalan keluar terhadap permasalahan tersebut. Dari beberapa rancangan yang telah disusun warga seringkali kurang berhasil karena terbentur oleh biaya pengadaan dan perawatan yang tinggi jika menggunakan pompa listrik atau mesin disamping keselamatan alat–alat tersebut karena lokasinya yang jauh dari rumah warga.

Dalam usaha mencari solusi itulah masyarakat berdasarkan keahlian masing-masing mencari jawaban terhadap permasalahan tersebut dan diantara warga terdapat seorang pemuda bernama Legimin (30 tahun) yang bekerja sebagai mekanik pada bengkel milik Bpk. Pujiono (pendiri Pondok Pesantren Miftakhul Jannah) melihat dan merenungkan bagaimana kebutuhan air di Pondok Pesantren yang cara penyaluran airnya dari sumber air di pegunungan menuju Pondok Pesantren melalui pipa-pipa hidrant layaknya Pipa PDAM dapat berfungsi dengan baik padahal semuanya merupakan buatan sendiri.

Maka, Legimin bersama empat orang rekan kerja di bengkel berdasarkan permasalahan di lingkungannya mencoba merakit sebuah alat pompa tanpa bahan bakar ataupun motor listrik namun memanfaatkan sistem kapilerisasi yang memanfaatkan tenaga air itu sendiri yaitu efek water hammer yang terjadi karena perbedaan ketinggian antara sumber air dengan pompa untuk memompa air ke tempat yang lebih tinggi. Sayangnya sudah 5 bulan mereka mencoba masih saja belum dapat berjalan dengan baik sesuai dengan yang diharapkan, akan tetapi setelah alat tersebut mereka padukan dengan sistem pemompaan pada pompa air “Dragon”  maka alat tersebut dapat difungsikan dalam kapasitas yang kecil namun belum difungsikan secara nyata dilapangan karena terbenturnya dengan dana.

Kemudian pada bulan Mei 2007 dimana ketika Program PNPM – P2KP masuk ke Desa Tambakboyo, dan dilaksanakan Pemetaan Swadaya di Dukuh Karanganyar, masyarakat terlontar kembali permasalahan kebutuhan air yang telah 2 tahun ini belum dapat terealisasi . Kemudian ketika wacana ini dimasukkan kedalam PJM Pronangkis “BKM Anugrah Sejati“, maka oleh Pak Paiman (Anggota BKM terpilih dari warga RW V) bersama dengan masyarakat mencoba untuk mengangkat kembali Kelompok Masyarakat untuk pemenuhan kebutuhan air yang dulu pernah dibentuk. Setelah bermusyawarah berkali-kali, masyarakat memberi nama Kelompok ini dengan nama KSM Asoka dengan Pak Kusnadi sebagai Ketua, Pak Legimin sebagai mekanik dan Pak Komari sebagai Pelaksana Lapangannya.

Alhasil setelah kegiatan KSM Asoka sebagai Prioritas utama dalam Bappuk I, Pak Legiman diberi mandat oleh warga untuk membuat kembali alat pompa tersebut dengan skala yang lebih besar dan bentuk yang lebih sempurna dibandingkan dengan percobaan-percobaan yang selama ini telah dilakukan. KSM Asoka selanjutnya segera merencanakan biaya pembuatan alat Pompa beserta dengan instalasi pipa dan bangunan-bangunan penunjang lainnya sehingga diharapkan Pompa yang terbuat nantinya dapat melayani kebutuhan air bersih wilayah RW V atau mungkin termasuk warga sekitarnya. Skema dari sistem adalah sebagai berikut:

 

 

TowerDari 2 sumber yang ada, yaitu dari Kali Jengking (A1) dan Sumber (A2) ditampung kedalam Bak Penampung (B) dengan pipa diameter 2 “
Dari Bak Penampung (B) dialirkan ke pompa yang memilihi beda tinggi sekitar 2 m supaya air dapat mendorong ke Pompa (C) dengan pipa diameter 3 “. Pompa (C)  dengan memanfaatkan efek water hammer, memompa air yang masuk dan menekan keatas melalui pipa diameter 1,5 “ (dari sistem pemompaan ini hanya 40% air keluar sedangkan 60% berada didalam tabung untuk menekan keatas melalui pipa 1,5 “)
Kemudian air yang menyembur keatas dialirkan melalui pipa diameter 1,5 “ menuju Tower (D) yang berada lebih dari ±200m dari pompa Hydram (beda tinggi ±20m). Ukuran tower 1×1 m2 dengan ketunggian 3 m diatas tanah. Selanjutnya dari tower dibagi menjadi 3 buah Bak Penampung (E1, E2 dan E3) ke wilayah RT masing-masing di wilayah RW V :
– Menuju ke bak penampung wilayah RT 01 berjarak 30 m
– Menuju ke bak penampung wilayah RT 02 berjarak 448 m
– Menuju ke bak penampung wilayah RT 03 berjarak 150 m

 

Bak PenampungPada tiap-tiap RT, bak penampung berukuran lebar 1m, panjang 3m dan tinggi 2m menggunakan tanah warga yang telah dihibahkan dengan berdiri diatas tanah berukuran 2x3m. Meskipun jaraknya berjauhan akan tetapi pompa ini berhasil menaikkan air hingga ke tower meskipun beda tinggi pompa dengan lokasi tower sekitar ±20m. Diharapkan pompa ini dapat dimanfaatkan oleh 108 KK atau 709 orang di wilayah warga RW V yang hampir 80% nya dibawah garis kemiskinan. KSM Asoka dalam perhitungannya, dari pembuatan Pompa yang terdiri atas :
– Pipa besi diameter 6 “ dengan ketebalan 4-5 mm untuk tabung utama
– Plat landas sebagai pemisah tabung dengan pipa di bawah tabung ataupun di bawah plat pompa.
– Klep pipa dari ban mobil bekas yang berbantuk melengkung.
– Pipa besi 4 “ untuk menyambung ke pipa tandon air 
– Pipa besi melengkung yang berada di bawah tabung yang sebelumnya hanya pipa rata.
– Dan alat-alat kecil penunjang lainnya.

Memanfaatkan dana sekitar 4,5 rupiah untuk pembuatan pompa hydram, ditambah dengan Tower Air dan Bak Penampung beserta dengan pipa-pipa yang lebih dari 500 meter, KSM Asoka menggunakan dana dari BLM sebesar Rp 22.500.000,00 dengan swadaya masyarakat berupa tenaga dan lain-lain sebesar Rp. 12.400.000,00 sehingga total kebutuhan dana keseluruhan sebesar Rp. 34.900.000,00. Bagi mereka ide pelaksanaan pompa ini merupakan suatu awal dan jika berhasil maka akan ditularkan kepada RW sekitar yang mengalami permasalahan yang sama.

Sumber : http://www.kmwjateng.net/best-practice/pompa-hydram-made-in-tambakboyo

Posted in Energi, Teknologi | Dengan kaitkata: , , , , | 27 Comments »

KREATIF DI SAAT SULIT; Hydrocarbon Crack System, Alat Penghemat BBM

Posted by Onei Hercuantoro pada September 4, 2008

Sumber : http://www.kr.co.id/web/detail.php?sid=166091&actmenu=36

06/06/2008 08:25:14 KENAIKAN harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang tinggi dan menyulitkan warga ternyata memicu seseorang untuk kreatif. Salah satunya orang yang kreatif dalam menciptakan alat penghemat bahan bakar minyak untuk kendaraan bermotor adalah Heri OM. Pria ini menyebut alat ciptaannya itu adalah Hydrocarbon Crack System (HCS).
Saat ditemui KR, di tempat kerjanya, Jalan Pringgokusuman GT 2/612, Kompleks Perumahan BTN, Kota Yogya, Kamis (4/6), Heri OM mengaku, alat ciptaannya mampu menghemat bahan bakar berkisar 50 hingga 90 persen tanpa panas mesin. Alat penghemat BBM ini menggunakan sistem hydrocarbon crack system (HCS) cukup terjangkau dan praktis.
Menurut Heri OM, HCS adalah alat yang dicipta memadukan sistem memecah atom hydrocarbon (bahan bakar premium atau pertamax) menjadi atom hydrocarbon (H2) dan carbon (C) dengan menggunakan pipa katalis yang dipanaskan. Panas luar dari mesin internal combustion (mesin kendaraan), yaitu panas blok mesin maupun knalpot yang mencapai temperatur hingga 400 derajat celcius dimanfaatkan untuk memformulasikan kerja alat.
Cara pengoperasionalan alat tersebut dengan mengisikan 300 cc premium ke dalam botol plastik, yang disalurkan ke intake karburator melalui pipa katalis yang bisa memecah premium menjadi hydrogen rich dan mengisap unsur partikel carbon, sehingga pada knalpot atau gas buang menghasilkan carbon monoksida bisa berkurang secara signifikan dan hydrogen sebagai penambah oktan pada kendaraan tersebut.
“Dengan hydrocarbon crack system anda bisa menghasilkan hydrogen (H2) sampai  3-5 liter per menit H2. Penghematan di sini lebih pada bagaimana memadukan akselerasi tarikan gas untuk menghasilkan tenaga maksimal dengan penggunaan bahan bakar seirit mungkin,” kata Heri. Alat ini   hanya Rp 75 ribu dengan ongkos pasang.                 (Agus Suwarto)-f

Posted in Energi, Teknologi | Dengan kaitkata: , , | 20 Comments »

Penemu Beras Merah Putih

Posted by Onei Hercuantoro pada Juli 8, 2008

Ngobrol dengan Penemu Beras Merah Putih LAKI-LAKI setengah baya itu duduk di kursi kayu berajut rotan. Sorot matanya sayup, kelopak sipit, seperti orang mengantuk. Artikulasi bicaranya kurang jelas, sedang sariawan. Tapi pancaran wajahnya masih kentara, dia berdarah biru. Tak salah, pria itu adalah salah satu cicit Sultan Hamengku Buwono VII. Kulit sawo matang, rambut memanjang sebahu. Kumis yang tak begitu lebat dibiarkan melengkung. Dialah BSW Adji Koesoemo (43), seorang pegiat pertanian di Yogyakarta.
Sekilas, dia orang biasa-biasa saja. Namun karya-karya penemuannya cukup menakjubkan. Di antaranya dia membudidayakan beras dwiwarna, merah putih, kemudian memproduksi minyak bahan bakar alternatif berbahan baku biota laut plankton, dan kendaraan panser bertenaga listrik.

Ikhwal beras dwiwarna, satu butir padi terdiri atas dua warna, putih dan merah, seperti bendera Indonesia ditemukan Adji Koesoemo bersama Hertanto. Awalnya memang bukan penelitian ilmiah, tetapi lebih pada keajaiban. Mereka mendapatkan buliran padi tersebut
dari penduduk yang menemukan di bawah reruntuhan candi di kawasan Klaten, 16 Februari 2006. . Beras ini diduga berasal dari sekitar abad VII.
“Saat ditemukan wujudnya sudah beras, bukan bentuk padi. Saya merasa terkejut, kok bisa, warnanya separuh merah, separuhnya lagi putih,” papar mantan aktivis mahasiswa itu pada acara penyerahan bibit padi varietas Merah Putih RI-1 bersama Sri Sultan Hamengku Buwono X, Walikota Salatiga, John Manoppo kepada petani Salatiga di rumah makan Jolgo Murni Jalan Kartini, Salatiga, Jawa Tengah, baru-baru ini. Beras merah putih, kata Adji memiliki kandungan yang lebih baik dibandingkan beras putih atau merah biasa. “Beras Merah putih sangat mendukung pertumbuhan anak-anak karena zat besinya tinngi. Juga mendukung kecerdasan anak-anak, dan untuk orangtua mencegah tidak mudah pikun karena zat besinya tinggi. Dan bagi penderita diabetes tidak masalah karena karbohidartnya rendah,” kata ayah dari tiga anak jebolan FakultasFilsafat UGM itu. Kandungan zat besi (ferro = Fe) beras merah putih adalah 4,61 mg/100 gram, sedangan beras putih hanya 0,13 mg, dan beras merah tidak terdeteksi. Kandungan zat seng (Zinkum=Zn) 8,30 mg/100 gram, sedangak beras putih 0,6 dan beras merah tidak terdeteksi. Kandungan karbohidrat, ujar Adji, paling rendah yakni 71,34 persen sedangkan beras putih 80 persen dan beras merah biasa 75 persen. Manusia membutuhkan banyak zat di antaranya zat besi, zat seng , karbohidrat. Menurut Data Balai Penelitian tanaman Padi, kekurangan zat besi dalam tubuh dapat menyebabkan anemia, sedangkan kekurangan zat seng menghambat pertubumbuhan pada bayi, mengganggu imunitas dan menghambat penyerapan zat besi. Dewasa ini diperkirakan lebih dari 50 persen wanita hamil dan 40 persen anak sekolah di Asie menderita anemia yang dikaitkan akibat kekurangan zat besi dalam tubuhnya. Padahal zat-zat itu dapat diperoleh pada makanan berbahan baku beras atau tepung beras. Suami dari drg Evi Herati ini menamai beras Merah Putih RI-1, karena beras ini mirip dengan bendera Republik Indonesia. Dia berharap, mudah-mudahan ke depan Indonesia berdaulat dalam pangan, tidak seperti kondisi saat ini menjadi negara pengimpor beras. Mengutip data BPS dan Gabungan Perusahaan Makanan dan Minuman (Gapmi), pada tahun 2007, 224,90 juta penduduk Indonesia membutuhkan beras 34,19 juta ton. Lahan areal pertanian seluas 11,59 juta hektar menghasilkan 34,31 jota ton beras, sehingga masih surplus 0,12 juta ton. Tahun 2008, diperkirakan minus 320 ribu ton beras, kemudian tahun 2010 minus 750 ribu ton, dan tahun 2020 minus 5,37 juta ton. Kekurangan ini disebabkan lonjakan jumlahpenduduk, sedangkan di sisi lain areal pertanian tidak bertambah atau bahkan berkurang. Adji, laki-laki kelahiran kelahiran Yogyakarta 4 November 1965. Dia adalah salah satu cicit Sultan Hamengku Buwono VII. Menurut Adji, saat beras Merah Putih ditemukan dua tahun lalu, berjumlah 160 butir. Selain beras ada juga jagung dan kacang hijau di dalamsatu wadah. Didorong rasa ingin tahu yang sangat tinggi, Adji pun mencari berbagai cara untuk melestarikan padi itu kendatipun, dengan spekulasi. Dia beserta kawannya bernama Hertanto, mereka memilah- milah beras yang masih tampak bagus, dan didapat 120 bulir yang masih memiliki mata beras. Untuk percobaan di bagi dua, 100 butirt ditanam telanjang atau polos apa adanya, sedangkan sisanya ditutupi media sekam padi rojolele. “Saya harap-harap cemas, ini bisa tumbuh apa tidak. Tapi menakjubkan, dari 120 yang ditanam ternyada ada 88 berkecambah, dan ada tujuh batang yang tumbuh dengan masing-masing dua anakan, jadi ada 21 batang padi. Semua saya juga cemas, karena sampai umur tiga bulan, tinggi padi hanya 5 cm, barulah umur limasetengah bulan terlihat tinggi dan berbuah. Dari 21 induknya dihasilkan 2.411 bulir padi yang kemudian dibudidayakan di 12 daerah,” kata Adji berseri-seri. Setelah dapat panen pertana, generasi kedua, beras merah putih dikembangkan di berbagai daerah seperti Kediri, Sumenep, Pati, Banyumas, Sabdodadi-Bantul, Banjarnegara, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Papua, dan Bali, untuk dibudidayakan. bahkan saat ini, sudah dikembangkan di 230 titik di berbagai provinsi. Selain kelebihan dalam kandungan zat-zat yang dibutuhkan manusia beras merah putih dibandingkan beras biasa, Adji mengatakan, beras ini lebih tahan terhadap hama. Karena pengembangbiakannya adalah organik, tanpa menggunakan puku-pupuk kimia, atau pestisida. “Dengan menanam padi Merah putih, saya sekalian mengimbau agar petani ktia jangan menanam opadi hibrida. Sebab dengan padi hibrida varietas baru selalu dikuti hama baru. Jangan-jangan dengan hama baru, eksportir akan memasukkan pestisida dagangannya, ” pinta Adji. (persda network/domuara ambarita/IGN sawabi)

Posted by domu.damians-ambarita.blog at 00:12

Posted in Teknologi | Dengan kaitkata: , , , , | 2 Comments »

Panser dan Mobil Listrik Made In Yogya

Posted by Onei Hercuantoro pada Juli 8, 2008

sumber berita & foto : http://maulhayat.blogspot.com/2008/05/panser-dan-mobil-listrik-made-in-yogya.html


PANSER + Mobil LISTRIK – Prototype Panser dan mobil listrik yang didisain oleh Bung AK dan disuport oleh Sekolah Tinggi Angkatan Laut Surabaya saat diperkenalkan ke publik di acara 100 Tahun Hari Kebangkitan Nasional di halaman Jogja Expo Centre, pada 20 Mei 2008. Bung AK (berbaju merah saat melepas panser listrik tersebut.

PENEMU bahan bakar berbahan baku plankton yang dinamai Bahan Bakar Nusantara asal Yogyakarta, BSW Adji Koesoemo, akrab dipanggil Bung AK yang Sabtu kemarin (14/5) diberitakan pernah didatangi seorang anggota tentara pemerintah RRC berpangkat Kolonel untuk diajak mengembangkan temuannya ke Cina berhasil mengembangkan prototype Panser listrik.

Prototype Panser Listrik yang mendapat bantuan dari Sekolah Tinggi Angkatan Laut (STAL) Surabaya itu diperkenalkan ke publik beberapa hari lalu bersamaan dengan peringatan 100 Tahun Kebangkitan Reformasi dan 10 Tahun Reformasi di Gedung Jogja Expo Center (JEC).

Bukan hanya Panser Listrik, Bung AK bersama Tim Indonesia Bangkit yang dipimpinnya juga memperkenalkan mobil berbahan energi listrik non generator di depan seribuan warga Yogya yang mengikuti senam sehat yang digelar Tim Indonesia Bangkit di JEC. Keunggulan panser listrik maupun mobil berbahan bagi energi listrik tersebut tertenaga listrik yang tidak perlu lagi dicas, tetapi energi listrik jalan terus yang cara kerjanya mirip dengan kerja dinamo untuk menghasilkan lampu pada sepeda onthel.

“Meski masih belum sempurna, ke depan Panser Listrik ini akan kami kembangkan menjadi kendaraan taktis (rantis) untuk operasional TNI/Polri agar kedaulatan pertahanan dan keamanan bisa terwujud di bumi pertiwi ini,” tegas Bung AK di sela-sela memperkenalkan prototype Panser Listrik yang dikerjakan selama sebulan, yang dibantu pihak STAL untuk perlengkapan persenjataan meriam berbasis komputer.

Selain itu, kata Bung AK kepada Tribun Batam Sabtu (22/5) rantis yang listriknya tidak perlu di charge lagi bisa dipakai untuk keperluan lain selain untuk menjalankan rantis. Karena listrik yang dihasilkan pada rantis mencapai 40.000 watt. Misalnya untuk perbaikan jembatan yang putus, listrik pada rantis ini bisa dipakai untuk ngelas, bisa juga untuik ngejam sinyal HP, ht, saluran televisi Menyinggung pengembangan listrik non generator tersebut, salah satu cicit Raja Kasultanan Yogyakarta, Sri Sultan Hamengkubuwono VII ini mengaku sudah diujicoba dipakai untuk penerangan berkuatan 40.000 watt di Pesantren Istiqomah, Palbapang, Bantul, Yogyakarta.

“Obsesi saya dari Tim Indonesia Bangkit nantinya setiap Kepala Keluarga bisa mendapatkan daya 5.000 watt listrik non generator ini,” katanya.

Mengenai sosok Adjikoesoemo sebagai penemu BBM dari biota laut yang diberi nama Bahan Bakar Nusantara (BBN) pernah diberitakan Tribun edisi awal Desember 2007 lalu. Saat itu, tepatnya pada 29 November 2007 Bung AK melakukan sosialisasi BBN berupa bensin yang per liternya hanya Rp 1.500 di Gedung DPRD DIY, disaksikan Ketua Dewan DIY Djuwarto.

Namun sungguh disayangkan, pemerintah tidak meresponnya. Belakangan ini, kata Bung AK kepada Tribun kemarin, bebrapa tokoh politik dan pemerintah mencoba mendekati pihaknya dengan tujuan agar BBN bisa digunakan sebagai alat kampanye.

“Sudah tentu kami menolak secara tegas. Karena sejak awal telah kami sampaikan bahwanya BBN tidak akan kami produksi sendiri melalinkan akan kami serahkan kepada pemerintah yang betul-betul bisa kami percaya dan teguh memegang amanat untuk kesejahteraan rakyat Indonesia,” ujar Bung AK yang emoh disebut Superman karena kemampuannnya menciptakan berbagai produk unggulan strategis.

“Saya bukan Superman, tapi Supertim,” tukas Bung AK yang juga dikenal sebagai penemu padi beras merah putih yang kini bibitnya kini sudah disosialisasikan kepada para petani di berbagai daerrah.

Untuk mewujudkan semua obsesinya tersebut, penggagas gerakan Tim Indonesia Bangkit ini meminta dukungan masyarakat luas. Melalui konsep 5 Kedaulatan yang dikuasainya ia mengaku siap untuk maju ke kancah kepemimpinan nasional. Kelima konsep Kedaulatan itu meliputi Kedaulatan Pangan, Energi, Telekomunikasi, Uang, serta Kedaulatan Ketahanan dan Keamanaan Negara.(Tribun Batam/Ahmad Suroso)

Dimuat di Tribun Batam dan Kompas.com Senin, 26 Mei 2008

http://www.kompas.com/read/xml/2008/05/26/22273886/panser.dan.mobil.listrik.made.in.jogja

Posted in Energi, Teknologi | Dengan kaitkata: , , , | Leave a Comment »

UFO – Made in Germany (Nazi)

Posted by Onei Hercuantoro pada Juni 26, 2008

source : http://www.alternate-energy.net/Z/video/0/video/vortex%20power%20generator/QnsgRbCKkN8.html

The SS E-IV (Entwicklungsstelle 4), a development unit of the SS occult “Order of the Black Sun” was tasked with researching alternative energies to make the Third Reich independent of scarce fuel oil for war production. Their work included developing alternative energies and fuels. This group developed by 1939 a revolutionary electro-magnetic-gravitic engine which improved Hans Coler’s free energy machine into an energy Konverter coupled to a Van De Graaf band generator and Marconi vortex dynamo (a spherical tank of mercury) to create powerful rotating electromagnetic fields that affected gravity and reduced mass. It was designated the Thule Triebwerk (Thrustwork, a.ka. Tachyonator-7 drive) and was to be installed into a Thule designed disc. Since 1935 the Thule Gesellschaft (Society) had been scouting for a remote, inconspicuous, underdeveloped testing ground for such a craft. Thule found a location in Northwest Germany that was known as (or possibly designated as) Hauneburg. At the establishment of this testing ground and facilities the SS E-IV unit simply referred to the new Thule disc as a war product- the “H-Gerat” (Hauneburg Device). For wartime security reasons the name was shortened to Haunebu in 1939 and was briefly designated RFZ-5 along with Vril’s machines once the Hauneburg site was abandoned in favor of the more suitable Vril Arado Brandenburg aircraft testing grounds. The early Haunebu I craft of which two prototypes were constructed were 25 meters in diameter, had a crew of eight and could achieve the incredible initial velocity of 4,800 km/h, but at low altitude. Further enhancement enabled the machine to reach 17,000 km/h. Flight endurance was 18 hours. To resist the incredible temperatures of these velocities a special armor called Victalen { Frozen Smoke } was pioneered by SS metallurgists specifically for both the Haunebu and Vril series of disc craft. The Haunebu I had a double hull of Victalen. {Frozen Smoke developed in the 30’s} The Experimental KSK Gun The early models also attempted to test out a rather large experimental gun installation- the twin 60 mm KSK (KraftStrahlKanone, Strong Ray Cannon) which operated off the Triebwerk for power. It has been suggested that the ray from this weapon made it a laser, but it was not. The Germans called it an “anachronism” gun- not belonging to that time period or out of place. When a Vril 7 was downed by the Russians in 1945 a similar underbelly mounted KSK gun was destroyed with debris recovered from the battle site. Postwar the strange metal balls and tungsten spirals that made up the weapon could not be identified. But recently it has been speculated that the Triebwerk-connected balls formed cascade oscillators that were connected to a long barrel-shrouded transmission rod wrapped in a precision tungsten spiral, or coil to transmit a powerful energy burst suitable to pierce up to 4 in (100 mm) of enemy armor. The heavy gun installation, however, badly destabilized the disc and in subsequent Haunebu models lighter MG and MK cannon were supposedly installed. The Series Prototypes The Haunebu I first flew in 1939 and both prototypes made 52 test flights. In 1942, the enlarged Haunebu II of 26 meters diameter was ready for flight testing. This disc had a crew of nine and could also achieve supersonic flight of 6,000 to 21,000 km/h with a flight endurance of 55 hours. Both it and the further developed 32 meter diameter Haunebu II Do-Stra had heat shielding of two hulls of Victalen. The craft were constructed and tested between 1943-44. The craft made 106 test flights. By 1944, the perfected war model, the Haunebu II Do-Stra (Dornier STRAtospharen Flugzeug/Stratospheric Aircraft) was tested. Two prototypes were built. These massive machines, several stories tall, were crewed by 20 men. They were also capable of hypersonic speed beyond 21,000 km/h. The SS had intended to produce the machines with tenders for both Junkers and Dornier but in late 1944/early 1945 Dornier was chosen. The close of the war, however, prevented Dornier from building any production models. Yet larger still was the 71 meter diameter Haunebu III. A lone prototype was constructed before the close of the war. It was crewed by 32 and could achieve speeds of 7,000 to 40,000 km/h. It had a triple Victalen hull. It is said to have had a flight endurance of 7 to 8 weeks. The craft made 19 test flights. This craft was to be used for evacuation work for Thule and Vril in March 1945.

Posted in Teknologi | Dengan kaitkata: , , , , , | 3 Comments »

Tips Supaya Aman dari Razia Software Bajakan di bandara

Posted by Onei Hercuantoro pada Juni 20, 2008

Tips instal software di laptop supaya aman dari razia software bajakan

sebelum memastikan menginstal software pastikan dulu kebutuhannya apa saja.

  1. Instal Windows XP yang versi resmi (official), caranya beli aja di toko komputer harga USD.80,-
  2. Pastikan kebutuhan anda apa saja, misal : mengetik, menghitung, presentasi, nonton film VCD/DVD, edit foto, mendengarkan musik, chatting, dll
  3. Untuk kebutuhan anda pastikan software tersebut harus berlisensi resmi
  4. Jika anda tidak ada anggaran untuk beli software berlisensi punya Amerika yang kapitalis itu, sebaiknya memanfaatkan software gratis saja yang sudah punya kemampuan hampir setara software berlisensi
  5. Download gratis software aplikasi di website freeware ataupun opensource, misalkan:

Kalau sudah pakai WIndows XP official dan pakai software aplikasi dengan lisensi freeware/opensource, saya jamin laptop anda bakal aman untuk dibawa2 kemanapun tanpa takut dirazia

Semoga berguna..

Posted in Komputer | Leave a Comment »