Sampah memang terbukti bisa diubah menjadi sumber energi. Baik itu sebagai biomassa ataupun dengan teknologi landfield powerplant yang menggunakan sampah sebagai bahan bakar untuk memanaskan air dan menggerakan turbin.
Jika menggunakan biomassa, maka efisiensi juga masih rendah, karena energi yang dihasilkan tidak sebanding dengan energi yang dibutuhkan. Teknologi landfield powerplant atau pembangkit listrik berbahan bakar sampah, dianggap lebih efisien, karena semua sampah yang ada digunakan sebagai bahan bakar dan energi yang dihasilkannya juga lebih besar. Hanya saja timbul pertanyaan, bagaimanakah asap dan polusi yang dihasilkan dari pembakaran tersebut?
Teknologi yang kini dianggap lebih efisien adalah dengan menggunakan gasifikasi plasma. Meski teknologi tersebut telah ditemukan lebih dari 40 tahun yang lalu oleh NASA, lembaga antariksa Amerika Serikat, untuk mengatur suhu dalam pesawat ruang angkasa, tetapi aplikasi untuk pembangkit listrik berbahan bakar sampah masih belum banyak di dunia, hanya beberapa negara yang menggunakannya yaitu Jepang dan Amerika Serikat.
Geoplasma, salah satu perusahaan yang mengembangkan teknologi tersebut, berhasil membuat busur api yang jauh lebih efisien untuk menghancurkan sampah dengan gas super panas atau dikenal juga dengan plasma yang dihasilkannya.
Pembangkit listrik yang akan dibangun di Florida akan membakar sampah sebanyak 1.500 ton perhari dan menghasilkan listrik sebesar 60 MW yang sebagian kecilnya digunakan untuk keperluan pembangkit listrik tersebut, setidaknya cukup untuk melistrik rumah sebanyak 50.000.
Gasifikasi plasma bekerja dengan menggunakan busur api listrik untuk memanaskan gas menjadi plasma. Suhu tinggi yang sudah tercipta akan memanaskan sampah menjadi syngas, yang telah bersih dari partikel-partikel. Berikutnya syngas tersebut digunakan untuk memutar turbin guna menghasilkan listrik.
Jika sampah dimasukkan ke dalam ruang pembakaran dan menerima pemanasan hingga suhu 5.537 derajat Celcius, sampah-sampah organik, cairan, dan kertas akan berubah menjadi gas panas bertekanan.
Uap, sebagai produk sampingannya bisa digunakan kembali untuk menghasilkan listrik.
Sementara sampah non-organik seperti logam dan lainnya, akan mencair dan terkumpul di bagian dasar ruang pembakaran tersebut dan bisa digunakan kembali untuk industri logam atau campuran aspal.
Keramahan terhadap lingkungannya? Ternyata emisi yang dihasilkan dengan teknologi plasma juga jauh lebih rendah jika menggunakan incinerator terstandar dan juga mengurangi jumlah methane yang dilepaskan ke udara.
Kebanyakan masyarakat Dukuh Karanganyar yang merupakan wilayah Desa Tambakboyo dan berbatasan dengan Desa Bawen adalah Petani dimana pengairan adalah hal yang penting untuk sawah yang diambilkan dari beberapa mata air dan sungai yang ada. Namun saat kemarau tiba hanya terdapat 2 mata air yang dapat dimanfaatkan oleh warga yaitu dari Kali Jengking dan dari mata air Sumber, sehingga ketika kemarau tiba 2 sumber ini merupakan tempat antrian warga untuk mendapatkan air bersih. Sejak dua tahun yang lalu, masyarakat membentuk sebuah kelompok untuk berusaha mencari jalan keluar terhadap permasalahan tersebut. Dari beberapa rancangan yang telah disusun warga seringkali kurang berhasil karena terbentur oleh biaya pengadaan dan perawatan yang tinggi jika menggunakan pompa listrik atau mesin disamping keselamatan alat–alat tersebut karena lokasinya yang jauh dari rumah warga.
Dalam usaha mencari solusi itulah masyarakat berdasarkan keahlian masing-masing mencari jawaban terhadap permasalahan tersebut dan diantara warga terdapat seorang pemuda bernama Legimin (30 tahun) yang bekerja sebagai mekanik pada bengkel milik Bpk. Pujiono (pendiri Pondok Pesantren Miftakhul Jannah) melihat dan merenungkan bagaimana kebutuhan air di Pondok Pesantren yang cara penyaluran airnya dari sumber air di pegunungan menuju Pondok Pesantren melalui pipa-pipa hidrant layaknya Pipa PDAM dapat berfungsi dengan baik padahal semuanya merupakan buatan sendiri.
Maka, Legimin bersama empat orang rekan kerja di bengkel berdasarkan permasalahan di lingkungannya mencoba merakit sebuah alat pompa tanpa bahan bakar ataupun motor listrik namun memanfaatkan sistem kapilerisasi yang memanfaatkan tenaga air itu sendiri yaitu efek water hammer yang terjadi karena perbedaan ketinggian antara sumber air dengan pompa untuk memompa air ke tempat yang lebih tinggi. Sayangnya sudah 5 bulan mereka mencoba masih saja belum dapat berjalan dengan baik sesuai dengan yang diharapkan, akan tetapi setelah alat tersebut mereka padukan dengan sistem pemompaan pada pompa air “Dragon” maka alat tersebut dapat difungsikan dalam kapasitas yang kecil namun belum difungsikan secara nyata dilapangan karena terbenturnya dengan dana.
Kemudian pada bulan Mei 2007 dimana ketika Program PNPM – P2KP masuk ke Desa Tambakboyo, dan dilaksanakan Pemetaan Swadaya di Dukuh Karanganyar, masyarakat terlontar kembali permasalahan kebutuhan air yang telah 2 tahun ini belum dapat terealisasi . Kemudian ketika wacana ini dimasukkan kedalam PJM Pronangkis “BKM Anugrah Sejati“, maka oleh Pak Paiman (Anggota BKM terpilih dari warga RW V) bersama dengan masyarakat mencoba untuk mengangkat kembali Kelompok Masyarakat untuk pemenuhan kebutuhan air yang dulu pernah dibentuk. Setelah bermusyawarah berkali-kali, masyarakat memberi nama Kelompok ini dengan nama KSM Asoka dengan Pak Kusnadi sebagai Ketua, Pak Legimin sebagai mekanik dan Pak Komari sebagai Pelaksana Lapangannya.
Alhasil setelah kegiatan KSM Asoka sebagai Prioritas utama dalam Bappuk I, Pak Legiman diberi mandat oleh warga untuk membuat kembali alat pompa tersebut dengan skala yang lebih besar dan bentuk yang lebih sempurna dibandingkan dengan percobaan-percobaan yang selama ini telah dilakukan. KSM Asoka selanjutnya segera merencanakan biaya pembuatan alat Pompa beserta dengan instalasi pipa dan bangunan-bangunan penunjang lainnya sehingga diharapkan Pompa yang terbuat nantinya dapat melayani kebutuhan air bersih wilayah RW V atau mungkin termasuk warga sekitarnya. Skema dari sistem adalah sebagai berikut:
Dari 2 sumber yang ada, yaitu dari Kali Jengking (A1) dan Sumber (A2) ditampung kedalam Bak Penampung (B) dengan pipa diameter 2 “
Dari Bak Penampung (B) dialirkan ke pompa yang memilihi beda tinggi sekitar 2 m supaya air dapat mendorong ke Pompa (C) dengan pipa diameter 3 “. Pompa (C) dengan memanfaatkan efek water hammer, memompa air yang masuk dan menekan keatas melalui pipa diameter 1,5 “ (dari sistem pemompaan ini hanya 40% air keluar sedangkan 60% berada didalam tabung untuk menekan keatas melalui pipa 1,5 “)
Kemudian air yang menyembur keatas dialirkan melalui pipa diameter 1,5 “ menuju Tower (D) yang berada lebih dari ±200m dari pompa Hydram (beda tinggi ±20m). Ukuran tower 1×1 m2 dengan ketunggian 3 m diatas tanah. Selanjutnya dari tower dibagi menjadi 3 buah Bak Penampung (E1, E2 dan E3) ke wilayah RT masing-masing di wilayah RW V :
- Menuju ke bak penampung wilayah RT 01 berjarak 30 m
- Menuju ke bak penampung wilayah RT 02 berjarak 448 m
- Menuju ke bak penampung wilayah RT 03 berjarak 150 m
Pada tiap-tiap RT, bak penampung berukuran lebar 1m, panjang 3m dan tinggi 2m menggunakan tanah warga yang telah dihibahkan dengan berdiri diatas tanah berukuran 2×3m. Meskipun jaraknya berjauhan akan tetapi pompa ini berhasil menaikkan air hingga ke tower meskipun beda tinggi pompa dengan lokasi tower sekitar ±20m. Diharapkan pompa ini dapat dimanfaatkan oleh 108 KK atau 709 orang di wilayah warga RW V yang hampir 80% nya dibawah garis kemiskinan. KSM Asoka dalam perhitungannya, dari pembuatan Pompa yang terdiri atas :
- Pipa besi diameter 6 “ dengan ketebalan 4-5 mm untuk tabung utama
- Plat landas sebagai pemisah tabung dengan pipa di bawah tabung ataupun di bawah plat pompa.
- Klep pipa dari ban mobil bekas yang berbantuk melengkung.
- Pipa besi 4 “ untuk menyambung ke pipa tandon air
- Pipa besi melengkung yang berada di bawah tabung yang sebelumnya hanya pipa rata.
- Dan alat-alat kecil penunjang lainnya.
Memanfaatkan dana sekitar 4,5 rupiah untuk pembuatan pompa hydram, ditambah dengan Tower Air dan Bak Penampung beserta dengan pipa-pipa yang lebih dari 500 meter, KSM Asoka menggunakan dana dari BLM sebesar Rp 22.500.000,00 dengan swadaya masyarakat berupa tenaga dan lain-lain sebesar Rp. 12.400.000,00 sehingga total kebutuhan dana keseluruhan sebesar Rp. 34.900.000,00. Bagi mereka ide pelaksanaan pompa ini merupakan suatu awal dan jika berhasil maka akan ditularkan kepada RW sekitar yang mengalami permasalahan yang sama.